Translate

Kamis, 16 Januari 2014

Waspada Kesombongan Komunitas ODOJ ???

“Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus.” (QS. Al Maa’idah: 16)

Alhamdulillah.... umat Islam negeri ini sepertinya sedang beranjak bangkit dari kelalaian nya dengan maraknya seruan-seruan untuk mengakrabkan diri dengan Al-Quran. Setidaknya minimal seorang muslim sejatinya mampu membaca Al-Quran satu juz sehari, begitulah salah satu visi misi komunitas-komunitas ODOJ (one day one juz). Baik yang terdaftar maupun yang independen, semuanya sama-sama mendengungkan kecintaan dan kedekatan seorang muslim pada kitab suci nan mulia ini.

Namun seperti sudah menjadi sunatullah, setiap kebaikan akan ada aral rintang yang menghalanginya. Begitu pula dengan program ini, ada saja yang tidak senang akan boomingnya kebiasaan membaca Al-Quran. Mereka akan dengan segala cara menghembuskan fitnah dan syak yang bisa membuat seorang muslim yang sedang bersemangat menjadi kembali tak bergairah. Diantara fitnah-fitnah yang ada, dan yang mungkin paling berpengaruh bagi perkembangan tradisi baik ini adalah perihal keikhlasan.

Mereka yang tidak suka dengan Islam dan ajaran, bahkan perkembangannya telah menghembuskan was-was di tengah-tengah kegemaran umat yang sedang berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Mereka beranggapan bahwa aktifitas membaca Al-Quran lalu melaporkan perkembangan bacaannya bisa mengacu pada kesombongan sang pembaca. Bahkan untuk menguatkan statement ini, mereka tak segan mengutip pemikiran-pemikiran para ulama sufi.
Padahal membaca Al-Quran adalah salah satu seruan Nabiullah Muhammad Saw yang bermuara pada ajaran Allah Swt.

“Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al 'Ankabuut: 45)

Selain itu, membaca Al-Quran adalah salah satu persiapan dalam rangka membangun kekuatan khoiro ummah secara maknawi. Yaitu kekuatan kebangkitan Islam dari dalam individu setiap pemeluknya, dengan nurullah-nurullah di dada mereka dan kecemerlangan pemikirannya. Yang mana kecemerlangan pemikiran mereka langsung bersumber dari peta kehidupan manusia, Al-Quran. Dan inilah yang menjadikan musuh-musuh Islam gentar bila mengetahuinya.

“Ini (Al Quran) adalah petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab yaitu siksaan yang sangat pedih.” (QS. Al Jaatsiyah; 11)

Setidaknya, ada tiga ciri khas kebangkitan generasi khoiro ummah;

1.    Menjadikan Al-Quran sebagai sumber utama (Al-Quran manba-un wahiid)
Generasi khoiro ummah akan selalu dengan ikhlas mengembalikan setiap permasalahan yang dia hadapi pada Al-Quran, akan dengan rela mempertanyakan syak-syak kehidupan yang ada dengan membaca Al-Quran, dan dengan cerdas pula mencari akar masalah kotoran zaman pada Al-Quran. Sehingga kontaminasi peradaban tradisi dan kebudayaan tidak terlalu mempengaruhi mereka.

“Sebenarnya, Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang zalim.” (QS. Al 'Ankabuut: 49)


2.    Menerima Al-Quran untuk diamalkan (Manhaj at-Talaqqi)
Ada riwayat dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, “Telah menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka kami mengerti ilmu dan amal.’” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi Syaibah nomor 29929).

Generasi khoiro ummah juga adalah mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai perintah sekaligus panduan atas apa-apa yang harus mereka kerjakan. Sehingga dengan ini ruh Al-Quran benar-benar akan menjadi kekuatan yang menenteramkan dan memenangkan umat ini dengan izin Allah Swt.

3.    Menjadikan Al-Quran sebagai rujukan perubahan persepsi
Dalam era globalisasi yang penuh syubhat seperti sekarang ini, mereka yang menjadi bagian dari generasi khoiro ummah akan mempunyai paradigma berfikir sebagaimana Al-Quran yang senantiasa dibaca. Yang kan menjadikan nya memiliki imunitas tinggi terhadap serangan keburukan kontemporer yang sengaja di ada-adakan untuk mengaburkan jati diri umat Islam.

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al Baqarah: 269)


Maka dengan semua ini, sebenarnya fitnah-fitnah yang ada bertebaran itu bersifat lemah. Karena masalah keikhlasan hanya terkait setiap individu dengan Allah Swt, dan mereka yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran cepat atau lambat akan mampu memiliki keikhlasan dengan sendirinya. Dan lebih dari itu, fitnah ini lebih dekat pada propaganda kaum liberalis sekuler yang tidak ingin melihat umat Islam maju.

“Dan apakah tidak cukup bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran) sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.”  (QS. Al 'Ankabuut: 51)

0 komentar:

Pencarian

Custom Search
Design by Abdul Munir Visit Original Post Islamic2 Template