“Dengan
kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keredhaan-Nya ke jalan
keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang-orang itu
dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya, dan
menunjuki mereka ke jalan yang lurus.”
(QS. Al Maa’idah: 16)
Alhamdulillah.... umat Islam negeri
ini sepertinya sedang beranjak bangkit dari kelalaian nya dengan maraknya
seruan-seruan untuk mengakrabkan diri dengan Al-Quran. Setidaknya minimal
seorang muslim sejatinya mampu membaca Al-Quran satu juz sehari, begitulah
salah satu visi misi komunitas-komunitas ODOJ (one day one juz). Baik yang
terdaftar maupun yang independen, semuanya sama-sama mendengungkan kecintaan
dan kedekatan seorang muslim pada kitab suci nan mulia ini.
Namun seperti sudah menjadi
sunatullah, setiap kebaikan akan ada aral rintang yang menghalanginya. Begitu
pula dengan program ini, ada saja yang tidak senang akan boomingnya kebiasaan
membaca Al-Quran. Mereka akan dengan segala cara menghembuskan fitnah dan syak
yang bisa membuat seorang muslim yang sedang bersemangat menjadi kembali tak
bergairah. Diantara fitnah-fitnah yang ada, dan yang mungkin paling berpengaruh
bagi perkembangan tradisi baik ini adalah perihal keikhlasan.
Mereka yang tidak suka dengan Islam
dan ajaran, bahkan perkembangannya telah menghembuskan was-was di tengah-tengah
kegemaran umat yang sedang berlomba-lomba dalam kebaikan ini. Mereka
beranggapan bahwa aktifitas membaca Al-Quran lalu melaporkan perkembangan
bacaannya bisa mengacu pada kesombongan sang pembaca. Bahkan untuk menguatkan
statement ini, mereka tak segan mengutip pemikiran-pemikiran para ulama sufi.
Padahal membaca Al-Quran adalah salah
satu seruan Nabiullah Muhammad Saw yang bermuara pada ajaran Allah Swt.
“Bacalah
apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Quran) dan dirikanlah
shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan
mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih besar
(keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan Allah mengetahui apa yang kamu
kerjakan.” (QS. Al
'Ankabuut: 45)
Selain itu, membaca Al-Quran adalah
salah satu persiapan dalam rangka membangun kekuatan khoiro ummah secara
maknawi. Yaitu kekuatan kebangkitan Islam dari dalam individu setiap
pemeluknya, dengan nurullah-nurullah di dada mereka dan kecemerlangan
pemikirannya. Yang mana kecemerlangan pemikiran mereka langsung bersumber dari
peta kehidupan manusia, Al-Quran. Dan inilah yang menjadikan musuh-musuh Islam
gentar bila mengetahuinya.
“Ini (Al Quran) adalah
petunjuk. Dan orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Tuhannya bagi mereka azab
yaitu siksaan yang sangat pedih.”
(QS. Al Jaatsiyah; 11)
Setidaknya,
ada tiga ciri khas kebangkitan generasi khoiro ummah;
1. Menjadikan Al-Quran sebagai sumber
utama (Al-Quran manba-un wahiid)
Generasi khoiro ummah akan selalu
dengan ikhlas mengembalikan setiap permasalahan yang dia hadapi pada Al-Quran,
akan dengan rela mempertanyakan syak-syak kehidupan yang ada dengan membaca
Al-Quran, dan dengan cerdas pula mencari akar masalah kotoran zaman pada
Al-Quran. Sehingga kontaminasi peradaban tradisi dan kebudayaan tidak terlalu
mempengaruhi mereka.
“Sebenarnya,
Al Quran itu adalah ayat-ayat yang nyata di dalam dada orang-orang yang diberi
ilmu. Dan tidak ada yang mengingkari ayat-ayat Kami kecuali orang-orang yang
zalim.” (QS. Al
'Ankabuut: 49)
2.
Menerima
Al-Quran untuk diamalkan (Manhaj at-Talaqqi)
Ada riwayat
dari Abi Abdul Rahman as-Sulamiy (seorang tabi’in), ia berkata, “Telah
menceritakan kepada kami orang yang dulu membacakan kepada kami yaitu
sahabat-sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bahwa mereka dulu
mendapatkan bacaan (Al-Qur’an) dari Rasululullah shallallahu ‘alaihi wa sallam
sepuluh ayat, mereka tidak mengambil sepuluh ayat yang lainnya sehingga mereka
mengerti apa yang ada di dalamnya yaitu ilmu dan amal. Mereka berkata, ‘Maka
kami mengerti ilmu dan amal.’” (Hadits Riwayat Ahmad nomor 24197, dan Ibnu Abi
Syaibah nomor 29929).
Generasi khoiro ummah juga adalah
mereka yang menjadikan Al-Quran sebagai perintah sekaligus panduan atas apa-apa
yang harus mereka kerjakan. Sehingga dengan ini ruh Al-Quran benar-benar akan
menjadi kekuatan yang menenteramkan dan memenangkan umat ini dengan izin Allah
Swt.
3. Menjadikan Al-Quran sebagai rujukan
perubahan persepsi
Dalam era globalisasi yang penuh
syubhat seperti sekarang ini, mereka yang menjadi bagian dari generasi khoiro
ummah akan mempunyai paradigma berfikir sebagaimana Al-Quran yang senantiasa dibaca.
Yang kan menjadikan nya memiliki imunitas tinggi terhadap serangan keburukan
kontemporer yang sengaja di ada-adakan untuk mengaburkan jati diri umat Islam.
“Allah
menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang Al Quran dan As Sunnah)
kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia
benar-benar telah dianugerahi karunia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang
berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (QS. Al Baqarah: 269)
Maka
dengan semua ini, sebenarnya fitnah-fitnah yang ada bertebaran itu bersifat
lemah. Karena masalah keikhlasan hanya terkait setiap individu dengan Allah
Swt, dan mereka yang senantiasa berinteraksi dengan Al-Quran cepat atau lambat
akan mampu memiliki keikhlasan dengan sendirinya. Dan lebih dari itu, fitnah
ini lebih dekat pada propaganda kaum liberalis sekuler yang tidak ingin melihat
umat Islam maju.
“Dan apakah tidak cukup
bagi mereka bahwasanya Kami telah menurunkan kepadamu Al Kitab (Al Quran)
sedang dia dibacakan kepada mereka? Sesungguhnya dalam (Al Quran) itu terdapat
rahmat yang besar dan pelajaran bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Al 'Ankabuut: 51)
0 komentar:
Posting Komentar