“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu
mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil
kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): "Bukankah Aku ini
Tuhanmu?" Mereka menjawab: "Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi
saksi." (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak
mengatakan: "Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah
terhadap ini (keesaan Tuhan)" (QS. Al-A’raaf : 172)
Sejatinya
syahadat telah lama terngiang dalam gendang telinga setiap muslim, bahkan jauh
sebelum itu setiap manusia sudah bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada tuhan yang
berhak disembah selain Allah. Hanya saja orang tuanyalah yang menjadikan
seseorang itu majusi atau nasrani, maka bersyukurlah yang terlahir sebagai
muslim. Seorang muslim seharusnya tidak hanya menerima islam sebagai hadiah
keturunan, namun terlebih sebagai pengikat ketenangan karena islam adalah agama
yang terbukti mampu menenangkan umatnya.
Syahadat
yang merupakan kunci utama memasuki agama islam sangatlah penting untuk terus
kita rawat, konsistensi ini akan berdampak pada kepekaan kita terhadap Islam
dan keislaman. Sejauh mana kita peduli terhadap Islam yang kita anut, sejauh
itu pulalah kekuatan syahadat dapat terbukti.
Ketika
kini Islam terus di caci maki dengan penistaan seperti pelecehan Nabiullah
Muhammad SAW, ketika para aktifis dakwah sekolah dicap teroris, ketika fatwa
ulama sebagai penyambung kalam Ilahi sudah lagi tak diambil peduli. Saat-saat
itulah mari bertanya pada diri sendiri, sudah sejauh mana syahadat sebagai
hadiah keislaman sejak lahir terjaga.
“Sesungguhnya
agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang
yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka,
karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barangsiapa yang kafir terhadap
ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya.” (QS. Ali Imran
: 19)
Oleh itu tiada salah bila setiap diri
muslim kembali mensyahadatkan syahadatnya, karena pentingnya syahadat paling
tidak mencakup lima aspek yang diantaranya;
1.
Kunci
memasuki agama Islam
“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya
tidak ada Ilah (sesembahan, tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi
dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. Dan Allah
mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (QS.
Muhammad : 19)
Dengan
bersyahadat secara otomatis kita memasrahkan segalanya hanya pada Allah, tuhan
sekalian kehidupan. Dengannya pun terhimpun petunjuk-petunjuk yang kan
mengarahkan kehidupan kita ke arah yang lebih baik, sebagaimana firmannya ;
“…..Jika
mereka masuk Islam, sesungguhnya mereka telah mendapat petunjuk, dan jika
mereka berpaling, maka kewajiban kamu hanyalah menyampaikan (ayat-ayat Allah).
Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (Q.S. Ali
Imran:20)
2.
Intisari
ajaran Islam
Islam
mengajarkan pemurnian akidah dengan hanya menyembah Tuhan Yang Maha Esa (Laa
ilaaha illallaah), yang risalah-Nya harus diakui telah diemban oleh manusia suci
nan mulia (Muhammad Ar-Rasulullah). Hal ini abadi dalam Al-Qur’an sebagaimana
firman-Nya;
“Dan Kami tidak mengutus seorang
rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: "Bahwasanya tidak
ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan
Aku." (QS. Al-Anbiyaa : 25)
3.
Dasar
perubahan
Seorang
muslim yang telah berikrar dengan syahadat dan dia meyakini sepenuh hati,
tiadalah dia kan diliputi kecemasan selain optimisme kebaikan. Karena orang
yang bersyahadat sejatinya dia telah sepenuhnya menyerahkan penjagaan dirinya
hanya pada Dzat Yang Maha Agung yang tiada keagungan lain selain diri-Nya.
“Dan apakah orang yang sudah mati
kemudian dia Kami hidupkan dan Kami berikan kepadanya cahaya yang terang, yang
dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia,
serupa dengan orang yang keadaannya berada dalam gelap gulita yang sekali-kali
tidak dapat keluar dari padanya? Demikianlah Kami jadikan orang yang kafir itu
memandang baik apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al- An’aam :
122)
Tak
hanya sampai di situ, syahadat pun mengantarkan pada penjagaan malaikat serta
ketegasan perubahan atas izin-Nya. Sebagaimana di firmankan-Nya;
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat
yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka
menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan
sesuatu kaum sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka
sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka
tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka
selain Dia.” (QS. Ar Rad : 11)
4.
Kaidah
dakwah para Rasul
Syahadat
merupakan misi agung para Rasul agar manusia terbebas dari penghambaan selain
pada-Nya. Sebagaimana Allah telah Berfirman;
“Dan sungguhnya Kami telah mengutus
rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan
jauhilah Thaghut itu", maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi
petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti
kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah
bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).” (QS. An Nahl :
36)
5.
Gerbang
menuju surga
Syahadat
pada akhirnya mampu mengantarkan kita pada surganya Allah SWT, sebagaimana yang
pernah disabdakan Nabiullah Muhammad SAW;
“Barangsiapa
akhir ucapannya "Laa ilaaha illallah" 'Tiada Tuhan selain Allah'
niscaya dia masuk surga.” (HR. Abu Dawud)
Maka
dari itu semua, mari setiap kita yang mengaku muslim hendaknya kembali mensyahadatkan
syahadatnya. Agar mudah-mudahan dengan kesadaran dasar ini, Allah menganugerahi
kita semua perubahan yang jauh lebih baik. Perubahan yang akan mampu
menghadirkan ketenangan dan kekuatan Islam. Sehingga suatu hari nanti tak akan
ada lagi yang berani mencaci maki Islam, tak ada lagi yang kan mengesampingkan
perkataan ulama dan tak kan ada lagi yang menuduh aktifitas pengkajian Islam
sebagai wadah teroris. Sampai khilafah Islamiyah tegak menaungi dunia dengan
rahmatan lil alamin.
ALLAHU
AKBAR!!! ALLAHU AKBAR!!! WALILLA ILHAMD.....
0 komentar:
Posting Komentar