Mendengar perkataan itu, Khalifah ‘Umar menangis, sehingga air mata beliau meleleh membasahi jenggotnya. Kemudian beliau mengambil sebuah pundi-pundi berisi uang seribu dinar.
“Kembalilah
kalian ke Himsh. Sampaikan salamku kepada Gubernur Sa’id bin ‘Amir. Dan uang
ini saya kirim kan untuk beliau, guna meringankan kesulitan-kesulitan rumah tangganya”
ucap ‘Umar sedih.
Setibanya
di Himsh, delegasi itu segera menghadap Gubernur Sa’id, menyampaikan salam dan
uang kiriman Khalifah untuk beliau Setelah Gubernur Sa ‘id melihat pundi-pundi berisi
uang dinar, pundi-pundi itu dijauhkannya dari sisinya seraya berucap, ‘inna
lilahi wa inna ilaihi raji’un. (Kita milik Allah, pasti kembali kepada Allah).”
Mendengar
ucapannya itu, seolah-olah suatu mara bahaya sedang menimpanya. Kerana itu
isterinya segera menghampiri seraya bertanya, “Apa yang terjadi, hai ‘Sa ‘Id?
Meninggalkah Amirul Mu ‘minin?”
“Bahkan
lebih besar dan itu!” jawab Sa’id sedih. “Apakah tentara muslimin kalah berperang?”
tanya Isterinya pula.
“Jauh
lebih besar dri itu!” jawab Sa’id tetap sedih. ‘Apa pulakah gerangan yang Iebih
dari itu?” tanya isterinya tak sabar.
‘Dunia
telah datang untuk merusak akhiratku. Bencana telah menyusup ke rumah tangga
kita,’ jawab Sa’id mantap.
“Bebaskan
dirimu daripadanya! “ kata isteri Sa’id memberi semangat, tanpa mengetahui perihal
adanya pundi pundi uang yang dikirimkan Khalifah ‘Umar untuk pri badi suaminya.
“Mahukah
Engkau menolongku berbuat demikian?” tanya Sa ‘id.
‘Tentu...;!
“jawab isterinya bersemangat.
Maka
Sa’id mengambil pundi-pundi uang itu, lalu disuruhnya isterinya membagi-bagi kepada
fakir miskin.
Tidak
berapa lama kemudian, Khalifah ‘Umar berkunjung ke Syria, mengininspeksi pemerintahan
di sana. Dalam kunjungannya itu beliau. menyempatkan diri singgah di Himsh Kota
Himsh pada masa itu dinamai orang pula “Kuwaifah (Kufah kedil)”, kerana rakyat
nya sering melapor kepada pemerintah pusat dengan ke1emahan-kelemahan Gubernur
mereka, persis seperti kelakuan masyarakat Kufah.
Tatkala
Khalifah singgah di sana, rakyat mengeluelukan beliau, mengucapkan Selamat Datang.
Khalifah
bertanya kepada rakyat, “Bagaimana penilaian Saudara-Saudara terhadap kebijakan
Gubernur.
“Ada
empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada Khalifah,” jawab rakyat.
“Saya
akan pertemukan kalian dengan Gubernur kalian,” jawab Khalifah ‘Umar sambil mendo’a:
“Semoga sangka baik saya selama ini kepada Sa’id bin ‘Amir tidak salah.”
Maka
tatkala semua pihak—iaitu Gubernur dan masyarakat—telah lengkap berada di hadapan
Khalifah, beliau bertanya kepada rakyat, “Bagaimana laporan sau dara-saudara
tentang kebijakan Gubernur Saudara-sau dara?”
Pertanyaan
Khalifah dijawab oleh seorang Juru Bicara.
Pertama:
Gubernur selalu tiba di tempat tugas setelah matahari tinggi.
“Bagaimana
tanggapan Anda mengenai lapor’an rakyat Anda itu, hai Sa ‘id?” tanya Khalifah.
Gubernur
Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy diam sejenak. Kemudian dia berkata: “Sesungguhnya
saya keberatan menanggapinya. Tetapi apa boleh buat.. Keluarga saya tidak mempunyai
pembantu. Kerana itu tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan roti lebih
dahulu untuk mereka. Sesudah adonan itu asam (siap untuk dimasak), barulah saya
buat roti. Kemudian saya berwudhu’. Sesudah itu barulah saya berangkat ke
tempat tugas untuk melayani masyarakat.”
“Apa
lagi laporan Saudara-saudara?” tanya Khalifah kepada hadirin.
Kedua,
Gubernur tidak bersedia melayani kami pada malam hari.”
“Bagaimana
pula tanggapan Anda mengenai itu, hai Sa’id?” tanya khalifah.
“Ini sesungguhnya lebih berat bagi saya menanggapinya, terutama di hadapan umum seperti
ini,” kata Sa ‘id. “Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani
masyarakat, malam hari untuk bertaqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah,”
lanjut Sa ‘id
“Apa
lagi,” tanya Khalifah kepada hadirin.
Ketiga:
Gubernur tidak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.
“Bagaimana
pula tanggapan Anda, hai Sa’id?” tanya Khalifah ‘Umar.
“Sebagaimana
telah saya terangkan tadi, saya tidak mempunyai pembantu rumah tangga. Di
samping itu saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badan ku ini. Saya
mencucinya sekali sebulan. Bila saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering
lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat,” ucap
Said.
‘Nah,
apa lagi laporan selanjutnya?” tanya Khalifah.
Keempai:
Sewaktu-waktu Gubernur menutup diri untuk bicara. Pada saat-saat seperti itu, biasanya
beliau pergi meninggalkan majlis.”
“Silakan
menanggapi, hai Gubernur Said!” kata Khali fah ‘Umar.
“Ketika
saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady
dihukum mati oleh kaum Quraisy kafir. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat
tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek
Khubaib, “Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami
bebaskan?”
Ejekan
mereka itu dijawab oleh Khubaib, “Saya tidak ingin bersenang-senang dengan isteri
dan anak-anak saya, sementara Nabi Muhammad tertusuk duri ...“
‘Demi
Allah...!” kata Sa’id. “Jika saya teringat akan peristiwa , di waktu mana saya membiarkan
Khubaib tanpa membelanya sedikit jua pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tidak
akan diampuni Allah swt.”
Segala
puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku,” kata Khalifah ‘U mar mengkahiri dialog
itu.
Sekembalinya
ke Madinah, Khalifah ‘Umar mengirimi Gubernur Sa’id seribu dinar untuk memenuhi
kebutuhannya.
Melihat
jumlah uang sebanyak itu, isterinya berkata kepada Sa’jd, “Segala puji bagi
Allah yang mencukupi kita berkat pengabdianmu. Saya ingin uang ini kita per
gunakan untuk membeli bahan pangan dan kelengkapan kelengkapan lain-lain. Dan
saya ingin pula menggaji seorang pembantu rumah tangga untuk kita.”
“Adakah
usul yang lebih baik dan itu?” tanya Sa’id kepada isterinya.
“Apa
pulakah yang lebih baik dari itu? “ jawab isterinya balik bertanya.
“Kita
bagi-bagikan saja uang ini kepada rakyat yang membutuhkannya. Itulah yang lebih
baik bagi kita,” jawab Sa’id.
“Mengapa....?”
tanya isterinya.
‘Dengan
begitu berarti kita mendepositokan uang ini kepada Allah. Itulah cara yang lebih
baik,” kata Said.
“Baiklah
kalau begitu,” kata isterinya. “Semoga kita dibalasi Allah dengan balasan yang paling
baik.”
Sebelum
mereka meninggalkan majlis, uang itu dimasukkan Sa ‘Id ke dalam beberapa pundi,
lalu diperintah kannya kepada salah seorang keluarganya:
‘Pundi
ini berikan kepada janda si Fulan. Pundi ini kepada anak yatim Si Fulan. Ini kepada
si Fulan yang miskin... dan seterusnya.”
Semoga
Allah swt. meridhai Sa’id bin ‘Amir Al-Jumahy. Dja telah membeli akhirat dengan
menghindari godaan kemewahan dunia, dan mengutamakan keridhaan Allah serta pahala
yang berlipat ganda di akhirat, lebih dan segala-galanya. Amin!!!
0 komentar:
Posting Komentar